Mengapa kita harus peduli lingkungan? jawaban sederhananya: karena kita semua tinggal di bumi yang sama, di tempat mana manusia lain juga tinggal bersama-sama. Dan pencemaran lingkungan yang terjadi, efeknya tidak hanya bersifat lokal, tetapi telah mengglobal. Karena kita semua, hidup di bawah langit yang sama.
Sedemikian dahsyatnya pencemaran global yang terjadi, menimbulkan kekhawatiran sekaligus keprihatinan terhadap kondisi ini. Hal ini mendorong diwujudkannya Konferensi Tingkat Tinggi Bumi di Rio de Janeiro, Brasil, pada 1992. Hasil dari konferensi ini melahirkan Agenda Abad 21, yaitu kesepakatan bersama negara-negara yang hadir dalam menanggulangi pencemaran global yang meningkat tajam.
Kepedulian, keprihatinan dan kekhawatiran kita terhadap pencemaran lingkungan jangan hanya berhenti pada tahap wacana belaka. Namun hendaklah diiringi dengan tindakan nyata dan praktik dalam keseharian kita. Tidak usah muluk-muluk, cukup dengan melakukan hal sederhana yang dilaksanakan secara konsisten. Termasuk pelibatan keluarga dan anak-anak kita dalam tindakan nyata ini.
Beberapa hal yang dapat kita lakukan dan tanamkan kepada anak-anak kita terkait kepeduliaan lingkungan ini, antara lain:
- membiasakan untuk tidak membakar sampah. Ini memang cara paling praktis untuk melenyapkan sampah. Tapi harus kita sadari, akibat pembakaran ini kita malah memunculkan polusi udara.
- membiasakan diri untuk membuang sampah di tempatnya dan sesuai dengan pembagian sampah (membedakan wadah untuk sampah kering dan sampah basah)
- membiasakan untuk menambah nilai guna (value) dari barang-barang bekas yang ada di rumah. Misalnya kaleng kosong disulap menjadi pot tanaman, kardus bekas untuk wadah mainan/majalah, botol mineral diubah menjadi tempat pensil, dan lain-lain. Disamping untuk lebih menghargai nilai guna suatu barang, imajinasi dan daya kreativitas anak akan terasah dengan kegiatan ini.
- bagi pengguna mobil, biasakan untuk selalu membawa kantong plastik untuk digunakan sebagai penampung sampah sementara, ketika dalam perjalanan. Ketika sampai di tujuan, sampah dibuang ke tempat sampah.
- membiasakan anak untuk membuang sampah pada tempat-tempat yang disediakan. Anak disarankan untuk tidak segan menyimpan sementara di saku/tas mereka sampah kering yang mereka hasilkan jika tidak menemukan tempat sampah. Misalnya bungkus permen dimasukkan saku atau tas dulu jika tidak ada tempat sampah.
- jika di sekitar rumah ada tanah kosong, tanamilah dengan tanaman/pepohonan sebagai proses penghijauan lingkungan rumah. Libatkan anak-anak dalam proses penanamannya. Jika perlu, adakan pembagian tanggung jawab perawatan masing-masing pohon/tanaman yang ditanam. Dan setiap orang berkewajiban untuk memelihara dan merawat tanaman sesuai ketetapan bersama. Hal ini sekaligus bertujuan menanamkan disiplin dan rasa bertanggung jawab dalam diri anak.
- manfaatkan lahan kosong dengan membuat lubang penampungan untuk sampah basah. Dengan penanganan tertentu, sampah basah dapat diubah menjadi kompos penyubur tanaman. Dalam skala luas, hal ini dapat menciptakan peluang kerja/tambahan penghasilan.
- ketika akan membeli suatu barang, hendaklah diperhatikan aspek daya tahan bahan dan kemungkinan untuk bisa didaur ulang.
Dan masih banyak lagi kegiatan-kegiatan yang dapat kita lakukan terhadap lingkungan kita dan dalam upaya menanamkan kecintaan terhadap lingkungan pada anak-anak kita.
Mungkin di antara Anda ada yang berkenan menambahkan?
Filed under: Keluarga dan Anak, Serba-Serbi | Tagged: daur ulang, lingkungan, peduli, pencemaran, sampah
mmg lbh bgs jk di kenalkan sdkt dm sdkt ttg Global Warming..good write bro!
mungkin kalau anakku kukenalkan tentang GLOBAL WARMING, mungkin akan nanya begini: ini kue dengan rasa apa, abah? hehehe, just kidding.