Menurut pengamatan saya selama ini, setiap anak, baik batita maupun balita, pasti pernah mengekspresikan dirinya dengan menggambar. Menorehkan baik itu pulpen, pensil warna, crayon, spidol, bahkan arang, ke segala tempat yang menurut mereka layak untuk menjadi kanvas. Wadah mengekspresikan suara hati, tempat menorehkan getaran jiwa, ruang untuk mengekspresikan ke-aku-an diri mereka. Dan dinding rumah pun jadi saksi bisu proses kreatif ini. Tembok-tembok rumah yang sunyi, jadi bernyanyi. Gorden, perabot, almari, penuh warna yang menghidupkan.
Tapi, berbeda dengan kepuasan hati sang anak, dan gegap riang tembok, dinding, gorden, dan semua yang berinteraksi langsung dengan proses batiniah ini, kita-kita yang merasa dewasa ini, boleh jadi akan menganggapnya lain.
Mungkin tidak berbeda dengan Anda, saat pertama kali saya menyaksikan bagaimana dinding penuh dengan coretan, lemari dan meja menjadi berwarna-warni sebagai hasil karya anak saya, reaksi pertama saya adalah kaget tidak ketulungan. Waalaaaaah, kok jadi begini ya!!! Untungnya, hanya rasa kaget yang muncul. Perasaan lain yang hampir mengiringi kekagetan saya, saya redam dan tahan. Jangan sampai rasa-rasa negatif lain muncul di hati kemudian mengalir ke ekspresi wajah saya, apalagi sampai terlontar menjadi kata-kata “anakku, kenapa kau lakukan ini. Kan dindingnya jadi kotor!!!”, “dasar nakal, tuh lihat, mejanya jadi tidak indah lagi karena coretan adek!!!”.
Bayangkan, bila binar-binar mata anak saya, atau anak Anda, yang tadinya ingin berbicara mengenai karya mereka menghilang hanya karena ketidakmampuan kita menahan emosi dan memahami situasi yang ada, kepada anak kita. Bayangkan pula, kemungkinan tenggelamnya potensi, keberanian dan bibit-bibit positif untuk berekspresi anak kita, yang menguap ke langit, karena bentakan kita, kata-kata kita yang memojokkan dan menyakiti hati anak kita. Dan ini terjadi, karena ego kita yang hanya mau memandang situasi di atas dari ukuran dan perspektif diri kita sendiri. Tidak dari sudut pandang anak kita yang masih polos dan lugu.
Seberapa dalamkah rasa bersalah kita, bila binar-binar mata itu memudar untuk kemudian menghilang?….
Apa yang terjadi bila misalnya begini:
Saya rengkuh anak saya dalam dekapan, dengan bibir tersenyum dan tatapan mata bahagia dan bangga? Bahagia dan bangga menyaksikan bahwa anak saya sudah bisa menggenggam alat tulis ke dalam tangannya, kemudian mengekspresikan dirinya ke dalam wujud guratan dan coretan. Bangga, karena ia berani mengekspresikan diri dan perasaannya dalam bentuk warna-warna, atau alat apa pun yang bisa digenggam jemarinya. Kemudian, masih dalam gelombang rasa bahagia dan bangga yang mendera, saya coba tanyakan apa imajinasi dan persepsi anak mengenai makna coretan yang ia torehkan di dinding dan di tempat-tempat lainnya.
Mari kita bayangkan, apakah yang akan terjadi…….
Filed under: Keluarga dan Anak | Tagged: anak, bahagia, bangga, ekspresi, jiwa, memojokkan, menguap
wah yang dah punya anak…
ponakan2 ku lbh parah lagi om..tp yaa yg namanya anak2 maklum aja
abah… abah… stl posting ‘gambar anakku’, anakmu langsung coret2 dinding rumah eyangnya lho… apa dia tahu ya… hehe… tapi ga papa, dinding bisa dicat lagi kok. Nay aja yang dikasih tahu kalau nulis ya di kertas…